Ekonomi & Bisnis

SPKS Konawe Selatan Soroti Tata Kelola Sawit, Harga TBS Anjlok dan RAM Tutup, Petani Terancam

×

SPKS Konawe Selatan Soroti Tata Kelola Sawit, Harga TBS Anjlok dan RAM Tutup, Petani Terancam

Sebarkan artikel ini

TeropongAngkasa.Com_Konawe Selatan/Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menyoroti kondisi tata kelola perkebunan kelapa sawit di wilayah Konawe Selatan yang dinilai semakin memprihatinkan.

Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, ditambah dengan penutupan sejumlah RAM penampungan sawit, membuat para petani berada dalam situasi sulit dan terancam kehilangan penghasilan utama mereka.

Ketua SPKS Konawe Selatan mengatakan,Tisrandi,S.H.,M.AP  bahwa kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi petani, tetapi juga mengganggu stabilitas usaha perkebunan rakyat yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat desa.

Menurutnya, harga TBS yang terus mengalami penurunan tidak sebanding dengan biaya produksi dan operasional yang harus ditanggung petani, mulai dari pupuk, biaya panen hingga transportasi pengangkutan buah sawit ke lokasi penjualan.

Petani hari ini sangat terpukul. Harga sawit turun, sementara beberapa RAM justru tutup sehingga petani kesulitan menjual hasil panennya. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pihak terkait,” ujar Ketua SPKS Konawe Selatan.

Ia menegaskan bahwa tata kelola sawit di daerah perlu diperbaiki, terutama dalam pengawasan rantai distribusi dan penentuan harga TBS agar petani tidak terus menjadi pihak yang dirugikan.

Kami berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pihak perusahaan untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan RAM tetap beroperasi. Kalau kondisi ini terus berlangsung, petani bisa mengalami kerugian besar bahkan gagal mempertahankan kebunnya,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang petani sawit di Konawe Selatan Herianto mengaku saat ini para petani mengalami kesulitan karena buah sawit yang dipanen tidak segera terserap pasar akibat terbatasnya tempat penjualan.

“Kadang buah sudah dipanen tapi belum ada tempat penjualan karena RAM tutup. Kalau terlalu lama disimpan kualitas buah turun dan harga makin rendah,” ungkap seorang petani sawit.

Petani lainnya juga berharap pemerintah segera turun tangan mencari solusi agar harga sawit kembali stabil dan aktivitas RAM dapat kembali normal sehingga hasil panen masyarakat tidak terbengkalai.

“Kami hanya berharap ada kepastian harga dan tempat penjualan. Sawit ini sumber penghasilan utama masyarakat,” katanya.

SPKS Konawe Selatan juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata niaga sawit di daerah agar petani memperoleh perlindungan dan kepastian usaha yang lebih baik di tengah kondisi ekonomi yang semakin menekan masyarakat perkebunan.

Laporan_Ikra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *